Monday, December 10, 2012

gaya kepemimpinan transformasional

Kata kepemimpinan tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita, kata transformasional mungkin masih asing di telinga sebagian orang (kalau transformer pasti banyak yang tahu…hehe). Nah...berikut ini akan disampaikan beberapa pengertian kepemimpinan transformasional oleh beberapa ahli.Yulk (1994: 11) mengatakan bahwa leadership (kepemimpinan) adalah proses dimana individu mempengaruhi anggota kelompok yang lainnya untuk mencapai tujuan organisasi. Sedangkan menurut Robbins (2001) kepemimpinan adalah hubungan antara seseorang dengan orang lain. Pemimpin mampu mempengaruhi orang lain agar bersedia bekerja sama dalam tugas-tugas yang berkaitan untuk mencapai apa yang diinginkan.


Suatu badan riset dalam penelitiannya menemukan beberapa variasi model untuk memahami kepemimpinan. Beberapa keterangan kecil teori sangat berguna dalam riset tersebut dan menemukan Multifactor Model of Leadership, Bass, Yamarino, & Hater (dalam Corrigan et.al, 2002). Dalam model ini kepemimpinan transformasional dikemukakan sebagai pemimpin yang efektif menolong anggota kelompoknya yaitu bawahannya untuk mengubah bentuk program dan mengembangkan kebutuhan para anggota mereka. Tujuan kepemimpinan transformasional dicapai melalui karisma, inspirasi, intelektual stimulant, dan pertimbangan individu untuk kepentingan bawahan.


Dalam Bernard Bass (1990), Kepemimpinan transformasional adalah bentuk kepemimpinan dimana pemimpinnya mampu memperluas serta meningkatan minat bekerja para bawahannya, sistem kepemimpinan dimana para pemimpinnya mampu memicu kepekaan dan penerimaan visi misi serta tujuan perusahaan, dan dimana pemimpinnya memiliki kontrol terhadap para bawahannya agar bawahan-bawahan mampu menggali potensi mereka masing-masing demi kemajuan perusahaan/ kelompok tersebut.

Menurut Burns (dalam Gardner dan Stough, 2002). Kepemimpinan transformasional dalam arti lain adalah proses memotivasi bawahan dengan cara yang menarik untuk meningkatkan tujuan dan nilai moral. Kepemimpinan transformasional juga didefinisikan dan diartikan sebagai suatu pandangan untuk organisasi dan kemudian memberikan inspirasi kepada bawahan untuk ikut berperan dalam membangkitkan pandangan tersebut.

Pemimpin sering meninjau dan mengadakan koreksi terhadap kinerja para bawahannya dan pemimpin memiliki kontrol penuh dalam menjalankan suatu organisasi mereka. Dalam hal ini kepemimpinan transformasional menjadi penting dalam kelangsungan hidupnya. Berdasarkan penelitian dari Olga Epitropaki, sistem kepemimpinan transformasional menunjukkan bahwa:
  1. Secara signifikan dapat meningkatkan performance organisasi 
  2. Mempunyai pengaruh positif terhadap penjualan jangka panjang dan kepuasan pelanggan 
  3. Meningkatkan komitmen organisasi dari bawahan 
  4. Meningkatkan kepercayaan karyawan dan perilaku perusahaan
  5. Meningkatkan kepuasan karyawan dengan pekerjaan dan pimpinan 
  6. Mengurangi tekanan kerja dan meningkatkan kesejahteraan karyawan   

Menurut Robbins (2001) kepemimpinan transformasional adalah pemimpin yang mampu memberi inspirasi karyawannya untuk lebih mengutamakan kemajuan organisasi daripada kepentingan pribadi, memberikan perhatian yang baik terhadap karyawan dan mampu merubah kesadaran karyawannya dalam melihat permasalahan lama dengan cara yang baru.

Kepemimpinan transformasional didefinisikan sebagai kepemimpinan yang melibatkan perubahan dalam organisasi. Kepemimpinan ini juga didefinisikan sebagai kepemimpinan membutuhkan tindakan motivasi para bawahan agar bersedia bekerja demi sasaran-sasaran tingkat tinggi yang dianggap melampaui kepentingan pribadinya pada saat itu. Kepemimpinan transformasional inilah yang sesungguhnya diartikan sebagai kepemimpinan sejati, karena kepemimpinan ini sungguh bekerja menuju sasaran pada tindakan mengarahkan organisasi kepada suatu tujuan yang tidak pernah diraih sebelumnya. (Locke dalam Yanto 2004).

Monday, April 25, 2011

Aplikasi Regresi Liner Sederhana dengan SPSS

REGRESI SEDERHANA Analisis ini menurut Sugiyono (200) digunakan oleh peneliti bila peneliti bermaksud meramalkan bagaimana keadaan (naik turunnya) variabel dependen (kriterium), bila ada satu variabel independen sebagai prediktor dimanipulasi (dinaik turunkan nilanya). Persamaan yang diperoleh dari regresi sederhana adalah Y = a + b X
y              =  adalah subjek nilai dalam variabel terikat yang diprediksikan
a              = harga Y bila X = 0 (harga konstan)
b             = angka arah koefisien regresi
X             = subjek pada variabel bebas yang mempunyai nilai tertentu.


Untuk memperoleh hasil perhitungan Regresi, dapat dilakukan dengan tiga cari yaitu perhitungan manual, menggunakan fungsi pada MS. Excel, atau menggunakan Software Statistik (dalam contoh ini digunakan SPSS)

Asumsi yang diperlukan untuk analisis ini adalah uji normalitas. Uji normalitas diperlukan untuk mengetahui apakah data yang terkumpul dari setiap variabel dependen dan independen atau keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah yang mendekati normal (Imam Ghozali,2009).
Untuk melihat model regresi normal atau tidak, dilakukan analisis grafik dengan melihat “normal probability report plot” yang membandingkan antara distribusi kumulatif dari data sesungguhnya dengan distribusi normal. Distribusi normal akan membentuk satu garis lurus diagonal dan ploting data akan dibandingkan dengan garis diagonal. Jika distribusi data normal, maka garis yang menggantikan data sesungguhnya akan mengikuti garis diagonalnya (Imam Ghozali, 2009).

Contoh Kasus :
Pak Hasan ingin mengetahui pengaruh kepuasan kerja (X) terhadap kinerja (Y)  karyawannya. Kuesioner kepuasan kerja di adaptasi dari Job Description Index (JDI)) yang dikembangkan oleh Hulin meliputi lima dimensi kepuasan kerja yang dirasakan karyawan yaitu kepuasan terhadap jenis pekerjaan, kesempatan promosi, supervisi, gaji atau upah, dan rekan kerja dengan jumlah total pertanyaan sebanyak 20 item. Sementara kinerja diukur berdasarkan

Ukuran-ukuran dari kinerja pegawai menggunakan lembar evaluasi kinerja yang disusun dikembangkan dari panduan evaluasi kinerja dari James E. Neal Jr (2003) antara lain terdiri dari 7 dimensi yang kemudian dikembangkan menjadi 26 indikator (item pernyataan).

Jumlah sampel  penelitian adalah seluruh karyawan yang berjumlah 37 orang. Berdasarkan hasil penyebaran angket diperoleh skor yang dapat dilihat di sini...datareg1

Setelah data dimasukkan ke dalam SPSS, maka analisis dilakukan :
Klik Analyze Regression Linier

masukkan Variabel kinerja (Y) ke dalam dependent box, dan kepuasan kerja (X) ke dalam independent box.
Klik Plot, lalu beri tanda pada Histogram dan Normal Probability Plot (ini untuk uji normalitas), lalu Klik Continue, lalu OK
output


 Interpretasi

A. KORELASI
Berdasarkan hasil analisis seperti yang ditampilkan Tabel di atas (Tabel Model Summary) diketahui bahwa korelasi parsial antara kepuasan kerja dan kinerja pegawai dengan korelasi product moment by Pearson. Hasil korelasi parsial didapat nilai r hitung sebesar 0,772.

Nilai korelasi ini tergolong kuat (> 0,600) dan memiliki nilai positif sehingga dapat dikatakan pola hubungan antara kepuasan kerja dan kinerja adalah searah. Artinya, semakin tinggi kepuasan maka kinerja pun akan semakin tinggi, begitu pula sebaliknya, semakin rendah kepuasan kerja maka kinerja-pun akan semakin rendah.  Koefisien determinasinya (KD) menunjukkan nilai sebesar 0,597 atau sebesar 59,70% (dibulatkan 60%) dari hasil (r2 x 100%). Artinya variasi perubahan kinerja dipengaruhi oleh kepuasan kerja sebesar 60% dan sisanya 40% dipengaruhi faktor lain selain kepuasan kerja.

B. REGRESI
Dari Tabel Coefficients diperoleh persamaan : Y = 20.268 Å 1,035 X
Konstanta sebesar 20.268 menyatakan bahwa jika variabel kepuasan kerja bernilai nol, maka kinerja pegawai adalah sebesar 20.268 satuan

Koefisien regresi sebesar 1,035 pada variabel kepemimpinan, maka akan menyebabkan kenaikan kinerja menjadi sebesar 32,251.

Selanjutnya, apakah model yang terjadi tersebut telah memenuhi asumsi normalitas?
Berdasarkan hasil uji terlihat bahwa Grafik Histogram memperlihatkan sebaran data menyebar ke seluruh daerah kurva normal, sehingga dapat dinyatakan bahwa data mempunya distribusi normal. Sementara hasil uji menggunakan P-P Plot menunjukkan bahwa data mengikuti garis diagonal sehingga dinyatakan bahwa data berdistribusi normal.

C. Uji Hipotesis
Dari hasil perhitungan didapat kesimpulan bahwa kepuasan kerja (X) memiliki hubungan yang siginifikan dengan kinerja. Hasil uji t (Tabel Coefficients) diperoleh nilai t hitung sebesar 7.194.
Sedangkan statistik tabel (t tabel) diperoleh dari Tabel t (terlampir) sebesar 2.028 artinya t hitung > t tabel (7,194 > 2.028). Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa, variabel bebas kepuasan kerja (X) secara parsial memiliki hubungan positif dan signifikan terhadap kinerja  (Y). hasil uji t ini sejalan dengan sig 0.000 yang jauh lebih kecil dari alpha 0.05 sehingga disimpulkan bahwa X memiliki pengaruh signifikan terhadap Y

Referensi :
Ghozali, Imam. 2009. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Semarang : BP-UNDIP
Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Administasi. Bandung : Alfabeta 

Monday, December 20, 2010

The Entrepreneurs Prayer

Sembilan Prinsip Bisnis


Berikut ini sembilan prinsip bisnis yang dipegang Arifin Panigoro:
1. Intuisi (memadukan kata hati dan akal sehat)
2. Kesetaraan (bersikap adil kepada lawan sekalipun)
3. Kejujuran (jujur itu langgeng)
4. Percaya diri (yakinkan diri, pengaruhi orang lain)
5. Jejaring (sejuta kawan kurang, satu lawan jangan)
6. Tanggungjawab (tunaikan kewajiban, hadapi persoalan)
7. Sumber daya manusia (pilih yang terbaik dan berdayakan)
8. Inovasi (berkarya tanpa jeda)
9. Peduli (menumbuhkan entrepreneurship).

Masyarakat Entrepreneurial Modal Kebangkitan Bangsa

Tantangan terbesar Indonesia di masa mendatang adalah bidang energi, pangan, dan lingkungan hidup. Butuh upaya sinergis eleman bangsa ini lebih kreatif dan mandiri beriwirausaha, tapi yang jujur dan bersih.
Sabtu (23/1) di Aula Barat, kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), berlangsung penganugerahan gelar doktor kehormatan (honoris causa) dalam bidang teknopreneurship kepada Arifin Panigoro.
Menurut Rektor ITB sekaligus Ketua Tim Promotor Prof Dr Ir Djoko Santoso MSc, ada sejumlah alasan dan pertimbangan gelar itu diberikan untuk Arifin. ITB menilai Arifin berhasil menghasilkan berbagai pemikiran gagasan dan karya yang bernilai kewirausahaan berbasis pengetahuan dan teknologi atau technopreneurship.
Di bidang perminyakan dan gas, Arifin dianggap telah mendorong tumbuhnya keyakinan kemampuan bangsa dalam memanfaatkan dan penguasaan teknologi perminyakan, sekaligus dapat bersaing secara global. Selain itu, Arifin telah menunjukkan kebajikan dalam pendayagunaan pengetahuan dan teknologi bagi masyarakat luas dan keberlanjutan energi di Indonesia.
Bagi Arifin Panigoro, penganugerahan gelar ini menjadi bukti pengakuan pentingnya pengembangan semangat kewirausahaan. Alumni Teknik Elektro ITB tahun 1973 ini menyadari bahwa tugas seorang wirausaha tak hanya membangun dan menjalankan perusahaan, tapi juga harus membangun masyarakat dan berusaha berkontribusi bagi kemajuan manusia.
Arifin menilai, gelar honoris causa yang dianugerahkan kepadanya bukan hanya ditujukan bagi dirinya sendiri, namun juga untuk seluruh masyarakat wirausaha di Tanah Air. Penghargaan ini, katanya, merupakan pemicu dan ajakan agar semua pemangku kepentingan dapat bekerja lebih keras mewujudkan pembangunan masyarakat entrepreneurial.
“Salah satu kunci pembangunan masyarakat entrepreneurial adalah melalui penguasaan teknologi dalam pengembangan bisnis,” tegas Arifin.

Entropi Sosial
Dalam sidang senat terbuka ITB yang dipimpin Rektor ITB, Arifin Panigoro mengemukakan, bangsa Indonesia kini tengah mengalami entropi. Yaitu sebuah kondisi atau ukuran kekacauan yang sulit untuk dipecahkan. Persoalan seolah kian banyak yang terus mengimpit tanpa pemecahan, belum lagi tiga tantangan terbesar di masa depan yang harus dihadapi: ketahanan energi, pangan, dan lingkungan hidup.
Menurut pria kelahiran Bandung, 14 Maret 1945 itu, pembangunan nasional harus menjadikan teknologi sebagai ujung tombak strategi, sementara ekonomi sebagai cita- citanya. Inovasi bukan hanya menyangkut soal teknologi, tapi juga kehidupan sosial.
Terkait hal ini, ia melihat pentingnya peranan para wirausaha. Upaya mengatasi tantangan energi, pangan, dan lingkungan hidup, tak hanya bisa diserahkan kepada pemerintah, tapi juga perlu dukungan para wirausaha dan akademisi. ”Tugas wirausaha tidak hanya memajukan perusahaan, tetapi juga bangsanya melalui berbagai inovasi,” ujar Arifin.
Dalam orasi ilmiah berjudul “Kuasai Teknologi, Bangun Ekonomi, Tegakkan Martabat Bangsa” yang ia bacakan, secara khusus Arifin mengetengahkan filosofi dan sembilan prinsip berbisnis yang ia peroleh dari proses belajar panjang. Delapan prinsip itu di antaranya berkaitan dengan karakter. Dan hanya satu prinsip terkait kompetensi.
Kesembilan prinsip bisnis yang dipegang Arifin adalah intuisi (memadukan kata hati dan akal sehat), kesetaraan (bersikap adil kepada lawan sekalipun), kejujuran (jujur itu langgeng), percaya diri (yakinkan diri, pengaruhi orang lain), jejaring (sejuta kawan kurang, satu lawan jangan), tanggungjawab (tunaikan kewajiban, hadapi persoalan), sumber daya manusia (pilih yang terbaik dan berdayakan), inovasi (berkarya tanpa jeda), serta peduli (menumbuhkan entrepreneurship).
Dalam menegakkan prinsip-prinsip ini, Arifin memahami pernyataan Ken Blanchard, “Kalau Anda selalu dihadapkan pada pilihan yang mudah, Anda tak akan pernah membangun karakter.”
Saat mengelola dan mengembangkan Medco Group, Arifin sempat mengalami prahara krisis keuangan tahun 1997. Tak ayal, perusahaan yang dipimpinnya ini terbelit utang besar akibat merosot tajamnya nilai tukar rupiah dan sulitnya likuiditas.
Pada saat itulah, karakter pengusaha, yaitu prinsip tanggungjawab yang Arifin pelajari dari mendiang ayahnya bahwa pengusaha harus bisa membayar utang dengan konsekuensi apa pun, menjadi relevan. Berkat prinsip itu, awal 2005, mayoritas saham perusahaannya bisa dikuasai kembali.
”Saya berkeyakinan bahwa dalam jangka panjang, berbisnis yang didasari prinsip-prinsip yang baik, atau bisnis dengan berpegang teguh pada etika, adalah jaminan utama terselenggaranya kegiatan bisnis dan tercapainya tujuan bisnis yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat luas,” kata Arifin.

Masyarakat Entrepreneurial

Dalam kuliah umum bertema “Merebut Masa Depan: Menyemai Masyarakat Entrepreneurial untuk Kebangkitan Bangsa,” yang disampaikan di Universitas Padjadjaran tahun lalu (20/5/09), Arifin menekankan agar dalam mengembangkan bisnis, untung yang diraih harus lewat jalan yang bersih. Untuk itu, butuh komitmen terhadap praktik good corporate governance, moral perusahaan yang bersih.
”Kenapa kita masih perlu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)? Ini mencirikan pengelolaan negara kita masih ada korupsi, masih belum baik, masih banyak yang tidak beres, masih belum menerapkan prinsip-prinsip good governance,” tegas Arifin kala itu.
Bagi Arifin, korupsi bukan hanya terjadi di kalangan aparatur negara saja, tapi juga dilakukan para pengusaha. Karena praktik korupsi sesungguhnya melibatkan swasta dan aparat publik. “Kita masih memerlukan pengusaha-pengusaha swasta yang lebih jujur, yang menerapkan good corporate governance yang anti korupsi,” tandasnya.
Selain itu, kewirausahaan (entrepreneurship), imbuh Arifin, menjadi kata kunci bangsa Indonesia untuk merebut masa depan. Dengan kewirausahaan yang tangguh, diharapkan tumbuh pribadi-pribadi yang otonom, memiliki daya saing, dan mampu bersaing dengan para wirausahawan dunia.
“Kita perlu menumbuhan center of exellence (pusat-pusat keunggulan) untuk mendrive pembangunan. Dari pusat-pusat keunggulan ini akan dilahirkan pemikiran-pemikiran dan orang-orang unggul yang memiliki kemampuan entrepreneur untuk merebut masa depan,” pungkas Arifin.

Free Internet Hotspot -WiFi

Internet di kampus terkoenksi dengan menggunakan bernagai media koneksi jaringan, antar alain WiFi. Dengan teknologi WiFi (wireless Fidelity) teknologi nirkable mahasiswa bisa menimati fasilitas Internet hotspot secara lebih nyaman.
Untuk saat ini pada (Januari 2009) cakupan areqan WiFi Hotspot bida digunakan di beberapa tempat antar lain :
  • Rektorat Kampus
  • Halaman depan rektorat dan sekitarnya
  • Halaman dalam sebelah timur rektorat
  • Tiap Fakultas (Teknik, ekonomi, Agroindustri, Psikologi)
  • Gedung LPPM UMBY
  • Kampus II, jl. Mangkubumi (utara stasiun tugu)
Mahasiswa yang belum mempunyai Laptop yang mendukung koneski WiFi bisa menggunakan berbagai termila yang sudah disediakan antara lain di Perpustakaan dan di Tiap Program Studi.
Prosedur untuk mendapatkan koneski WiFi yaitu :
  1. Terdaftar sebagai mahasiswa Mercu Buana Yogyakarta
  2. Tertib membayar SPP
  3. Mendaftar langsung di Pusat komputer (PUSKOM) Mecu Buana Yogyakarta Gedung rektorat Lantai III (bagian barat)

lokasi

 
Jl. Jembatan Merah 84 C Gejayan Yogyakarta 55283
Telp. : (0274) 6647444, 081313929922