Monday, December 20, 2010

Masyarakat Entrepreneurial Modal Kebangkitan Bangsa

Tantangan terbesar Indonesia di masa mendatang adalah bidang energi, pangan, dan lingkungan hidup. Butuh upaya sinergis eleman bangsa ini lebih kreatif dan mandiri beriwirausaha, tapi yang jujur dan bersih.
Sabtu (23/1) di Aula Barat, kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), berlangsung penganugerahan gelar doktor kehormatan (honoris causa) dalam bidang teknopreneurship kepada Arifin Panigoro.
Menurut Rektor ITB sekaligus Ketua Tim Promotor Prof Dr Ir Djoko Santoso MSc, ada sejumlah alasan dan pertimbangan gelar itu diberikan untuk Arifin. ITB menilai Arifin berhasil menghasilkan berbagai pemikiran gagasan dan karya yang bernilai kewirausahaan berbasis pengetahuan dan teknologi atau technopreneurship.
Di bidang perminyakan dan gas, Arifin dianggap telah mendorong tumbuhnya keyakinan kemampuan bangsa dalam memanfaatkan dan penguasaan teknologi perminyakan, sekaligus dapat bersaing secara global. Selain itu, Arifin telah menunjukkan kebajikan dalam pendayagunaan pengetahuan dan teknologi bagi masyarakat luas dan keberlanjutan energi di Indonesia.
Bagi Arifin Panigoro, penganugerahan gelar ini menjadi bukti pengakuan pentingnya pengembangan semangat kewirausahaan. Alumni Teknik Elektro ITB tahun 1973 ini menyadari bahwa tugas seorang wirausaha tak hanya membangun dan menjalankan perusahaan, tapi juga harus membangun masyarakat dan berusaha berkontribusi bagi kemajuan manusia.
Arifin menilai, gelar honoris causa yang dianugerahkan kepadanya bukan hanya ditujukan bagi dirinya sendiri, namun juga untuk seluruh masyarakat wirausaha di Tanah Air. Penghargaan ini, katanya, merupakan pemicu dan ajakan agar semua pemangku kepentingan dapat bekerja lebih keras mewujudkan pembangunan masyarakat entrepreneurial.
“Salah satu kunci pembangunan masyarakat entrepreneurial adalah melalui penguasaan teknologi dalam pengembangan bisnis,” tegas Arifin.

Entropi Sosial
Dalam sidang senat terbuka ITB yang dipimpin Rektor ITB, Arifin Panigoro mengemukakan, bangsa Indonesia kini tengah mengalami entropi. Yaitu sebuah kondisi atau ukuran kekacauan yang sulit untuk dipecahkan. Persoalan seolah kian banyak yang terus mengimpit tanpa pemecahan, belum lagi tiga tantangan terbesar di masa depan yang harus dihadapi: ketahanan energi, pangan, dan lingkungan hidup.
Menurut pria kelahiran Bandung, 14 Maret 1945 itu, pembangunan nasional harus menjadikan teknologi sebagai ujung tombak strategi, sementara ekonomi sebagai cita- citanya. Inovasi bukan hanya menyangkut soal teknologi, tapi juga kehidupan sosial.
Terkait hal ini, ia melihat pentingnya peranan para wirausaha. Upaya mengatasi tantangan energi, pangan, dan lingkungan hidup, tak hanya bisa diserahkan kepada pemerintah, tapi juga perlu dukungan para wirausaha dan akademisi. ”Tugas wirausaha tidak hanya memajukan perusahaan, tetapi juga bangsanya melalui berbagai inovasi,” ujar Arifin.
Dalam orasi ilmiah berjudul “Kuasai Teknologi, Bangun Ekonomi, Tegakkan Martabat Bangsa” yang ia bacakan, secara khusus Arifin mengetengahkan filosofi dan sembilan prinsip berbisnis yang ia peroleh dari proses belajar panjang. Delapan prinsip itu di antaranya berkaitan dengan karakter. Dan hanya satu prinsip terkait kompetensi.
Kesembilan prinsip bisnis yang dipegang Arifin adalah intuisi (memadukan kata hati dan akal sehat), kesetaraan (bersikap adil kepada lawan sekalipun), kejujuran (jujur itu langgeng), percaya diri (yakinkan diri, pengaruhi orang lain), jejaring (sejuta kawan kurang, satu lawan jangan), tanggungjawab (tunaikan kewajiban, hadapi persoalan), sumber daya manusia (pilih yang terbaik dan berdayakan), inovasi (berkarya tanpa jeda), serta peduli (menumbuhkan entrepreneurship).
Dalam menegakkan prinsip-prinsip ini, Arifin memahami pernyataan Ken Blanchard, “Kalau Anda selalu dihadapkan pada pilihan yang mudah, Anda tak akan pernah membangun karakter.”
Saat mengelola dan mengembangkan Medco Group, Arifin sempat mengalami prahara krisis keuangan tahun 1997. Tak ayal, perusahaan yang dipimpinnya ini terbelit utang besar akibat merosot tajamnya nilai tukar rupiah dan sulitnya likuiditas.
Pada saat itulah, karakter pengusaha, yaitu prinsip tanggungjawab yang Arifin pelajari dari mendiang ayahnya bahwa pengusaha harus bisa membayar utang dengan konsekuensi apa pun, menjadi relevan. Berkat prinsip itu, awal 2005, mayoritas saham perusahaannya bisa dikuasai kembali.
”Saya berkeyakinan bahwa dalam jangka panjang, berbisnis yang didasari prinsip-prinsip yang baik, atau bisnis dengan berpegang teguh pada etika, adalah jaminan utama terselenggaranya kegiatan bisnis dan tercapainya tujuan bisnis yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat luas,” kata Arifin.

Masyarakat Entrepreneurial

Dalam kuliah umum bertema “Merebut Masa Depan: Menyemai Masyarakat Entrepreneurial untuk Kebangkitan Bangsa,” yang disampaikan di Universitas Padjadjaran tahun lalu (20/5/09), Arifin menekankan agar dalam mengembangkan bisnis, untung yang diraih harus lewat jalan yang bersih. Untuk itu, butuh komitmen terhadap praktik good corporate governance, moral perusahaan yang bersih.
”Kenapa kita masih perlu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)? Ini mencirikan pengelolaan negara kita masih ada korupsi, masih belum baik, masih banyak yang tidak beres, masih belum menerapkan prinsip-prinsip good governance,” tegas Arifin kala itu.
Bagi Arifin, korupsi bukan hanya terjadi di kalangan aparatur negara saja, tapi juga dilakukan para pengusaha. Karena praktik korupsi sesungguhnya melibatkan swasta dan aparat publik. “Kita masih memerlukan pengusaha-pengusaha swasta yang lebih jujur, yang menerapkan good corporate governance yang anti korupsi,” tandasnya.
Selain itu, kewirausahaan (entrepreneurship), imbuh Arifin, menjadi kata kunci bangsa Indonesia untuk merebut masa depan. Dengan kewirausahaan yang tangguh, diharapkan tumbuh pribadi-pribadi yang otonom, memiliki daya saing, dan mampu bersaing dengan para wirausahawan dunia.
“Kita perlu menumbuhan center of exellence (pusat-pusat keunggulan) untuk mendrive pembangunan. Dari pusat-pusat keunggulan ini akan dilahirkan pemikiran-pemikiran dan orang-orang unggul yang memiliki kemampuan entrepreneur untuk merebut masa depan,” pungkas Arifin.

No comments:

Post a Comment